Apakah Depresi Membuat Kita Lebih Mudah Sakit? - Ashefa Griya Pusaka

Apakah Depresi Membuat Kita Lebih Mudah Sakit?

depresi dan mudah sakit 1
Share on:

Tahukah Anda bahwa dari hasil penelitian, 64 persen orang dewasa dengan gangguan atau gejala depresi memiliki peluang lebih besar terkena penyakit arteri koroner? Bisakah depresi membuat Anda lebih mudah terkena sakit? Sangat mungkin! Coba simak penjelasannya berikut ini.

Memahami Depresi

Depresi, yang sering disebut sebagai “flu biasa” dalam kesehatan mental, lebih dari sekadar perasaan sedih. Ini adalah kondisi kompleks yang memengaruhi suasana hati, pikiran, dan perilaku seseorang. Pada intinya, depresi ditandai dengan perasaan sedih atau hampa yang terus-menerus sehingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Gejala umum depresi dapat mencakup hal-hal berikut ini :

  • Kesedihan yang luar biasa
  • Hilangnya minat terhadap aktivitas yang pernah dinikmati
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Perubahan nafsu makan
  • Perubahan pola tidur
  • Perasaan bersalah atau tidak berharga

Gejala psikologis di atas dapat melemahkan dan berdampak besar pada kualitas hidup seseorang. Tapi itu tidak berakhir di situ. Depresi juga dapat memberikan dampak buruk pada tubuh fisik.

Gejala Fisik Depresi

Gejala fisik depresi sering kali diabaikan, padahal gejala depresi bisa sama melemahkannya dengan gejala psikologis. Ketika Anda mengalami gejala-gejala fisik ini bersamaan dengan tekanan emosional, penting untuk menyadari bahwa gejala-gejala tersebut bisa jadi merupakan tanda-tanda depresi yang mendasarinya dan bukan semata-mata terkait dengan kondisi medis lainnya.

  • Kelelahan atau Kurang Energi

Salah satu gejala fisik depresi yang umum adalah kelelahan atau energi rendah. Anda mungkin merasa lelah sepanjang waktu, bahkan setelah tidur malam yang nyenyak. Bagian tersulit dari gejala ini adalah dapat memperburuk gejala lainnya. Hal ini membuat lebih sulit untuk terlibat dalam aktivitas yang dapat membantu Anda merasa lebih baik. Hal ini dapat mempersulit penanganan depresi Anda.

  • Kesulitan Tidur

Salah satu gejala fisik yang umumnya dikaitkan dengan depresi adalah kesulitan tidur. Banyak penderita depresi mengalami perubahan pola tidurnya. Hal ini dapat berdampak signifikan terhadap kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

Perubahan ini mungkin termasuk insomnia, di mana seseorang merasa sulit untuk tertidur atau tetap tertidur sepanjang malam. Di sisi lain, beberapa orang mungkin mengalami hipersomnia. Menderita hipersomnia, mereka akan mendapati diri mereka tidur berlebihan namun masih merasa lelah.

Kesulitan tidur dapat menyebabkan Anda sakit. Kurang tidur dapat berdampak pada sistem kekebalan tubuh Anda. Penelitian menunjukkan bahwa ketika Anda kurang tidur; Anda lebih mungkin untuk terkena penyakit.

  • Gejala GI

Gejala gastrointestinal umum terjadi pada penderita depresi. Pikiran dan naluri memiliki hubungan yang kuat. Tidak mengherankan jika perubahan pada satu hal dapat mempengaruhi perubahan lainnya. Saat seseorang mengalami depresi, seringkali mereka mengalami masalah pada pencernaannya. Hal ini dapat menyebabkan sakit perut, mual, diare, atau sembelit.

Gejala gastrointestinal dapat membuat hidup dengan depresi menjadi lebih sulit. Hal ini bisa sangat melemahkan. Penyakit ini juga dapat memperburuk kondisi fisik yang sudah ada seperti sindrom iritasi usus besar (IBS).

  • Efek Kardiovaskular

Depresi tidak hanya memengaruhi pikiran Anda; itu juga dapat berdampak buruk pada kesehatan jantung Anda. Dampak depresi pada jantung dan pembuluh darah sudah diketahui dengan baik. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menderita depresi mempunyai risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan masalah kardiovaskular.

Salah satu cara depresi mempengaruhi sistem kardiovaskular adalah dengan meningkatkan peradangan dalam tubuh. Peradangan kronis ini dapat merusak pembuluh darah. Aterosklerosis, atau pengerasan pembuluh darah, dapat terjadi dan meningkatkan kemungkinan serangan jantung dan stroke.

Selain itu, depresi dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh kita. Ini termasuk hormon seperti kortisol dan adrenalin. Hormon-hormon ini memainkan peran penting dalam mengatur tekanan darah dan detak jantung.

  • Perubahan Nafsu Makan

Salah satu gejala fisik depresi yang kurang diketahui adalah perubahan nafsu makan. Beberapa orang mungkin mengalami peningkatan nafsu makan, yang menyebabkan penambahan berat badan dan potensi risiko kesehatan. Di sisi lain, beberapa orang mungkin kehilangan keinginan untuk makan, sehingga mengakibatkan penurunan berat badan yang signifikan dan malnutrisi.

Perubahan ini dapat berdampak besar pada kesehatan secara keseluruhan. Gizi yang buruk akibat nafsu makan menurun atau meningkat dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Hal ini membuat individu lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit.

Hal ini juga dapat menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral penting yang diperlukan untuk fungsi tubuh yang baik. Perubahan berat badan yang drastis membebani jantung dan meningkatkan risiko penyakit jantung dan kondisi terkait.

Bisakah Depresi Membuat Anda Sakit?

Bukan berarti depresi langsung membuat Anda sakit, namun depresi menciptakan banyak faktor. Dampak depresi terhadap tubuh Anda secara fisik dapat menyebabkan Anda jatuh sakit. Depresi sendiri mungkin tidak secara langsung menyebabkan penyakit, namun dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Hal ini membuat tubuh Anda lebih sulit melawan infeksi atau pulih dari penyakit lain.

Orang yang menderita depresi sering kali menggunakan mekanisme koping yang tidak sehat. Hal ini dapat mencakup penyalahgunaan zat terlarang atau mengabaikan praktik perawatan diri seperti olahraga atau nutrisi yang tepat. Semua faktor ini berkontribusi terhadap kesehatan yang buruk secara keseluruhan.

Salah satu aspek penting dari hubungan antara depresi dan penyakit fisik adalah peran kortisol dalam tubuh kita. Kortisol adalah hormon yang membantu mengatur respons stres. Namun, ketika kita mengalami stres atau depresi kronis, kadar kortisol bisa menjadi tidak seimbang.

Kadar kortisol yang tinggi dalam jangka waktu lama dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Hal ini membuat kita lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit. Hal ini juga dapat menyebabkan peradangan pada tubuh. Peradangan dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan. Ini termasuk penyakit jantung, diabetes, dan gangguan autoimun.

Selain itu, peningkatan kadar kortisol dapat mengganggu pola tidur. Hal ini dapat menyebabkan insomnia atau kesulitan tidur lainnya yang umumnya dikaitkan dengan depresi. Kurangnya tidur nyenyak yang cukup semakin membahayakan kesehatan kita secara keseluruhan.

Pilihan Pengobatan untuk Depresi

Dalam hal mengobati depresi, ada beberapa pilihan yang tersedia yang dapat membantu Anda meredakan depresi dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Penting untuk diingat bahwa apa yang berhasil untuk satu orang mungkin tidak berhasil untuk orang lain.

Salah satu pilihan pengobatan yang umum adalah psikoterapi, juga dikenal sebagai terapi bicara. Ini melibatkan kerja sama dengan terapis terlatih yang dapat membantu Anda mengeksplorasi pikiran, emosi, dan perilaku Anda. Hal ini dapat membantu Anda mengembangkan mekanisme dan strategi penanggulangan yang lebih sehat.

Pilihan lainnya adalah pengobatan. Obat tertentu dapat diresepkan oleh dokter untuk membantu mengatur bahan kimia otak dan meringankan gejala depresi. Ada juga terapi alternatif seperti akupunktur atau meditasi mindfulness. Hal ini menjanjikan dalam membantu individu mengelola gejala depresinya.

Perubahan gaya hidup yang positif pun akan sangat membantu. Menjaga kesehatan fisik dapat memberikan efek positif pada suasana hati dan tingkat energi Anda. Memasukkan olahraga teratur ke dalam rutinitas Anda adalah salah satu cara untuk meningkatkan suasana hati dan mengurangi gejala depresi. Olahraga melepaskan endorfin. Ini dikenal sebagai hormon “perasaan baik” yang dapat membantu meringankan perasaan sedih atau cemas.

Selain berolahraga, menjaga kebersihan tidur juga penting untuk menjaga kesehatan mental dari depresi. Menetapkan jadwal tidur yang konsisten dan menciptakan rutinitas waktu tidur yang menenangkan dapat meningkatkan kualitas tidur Anda. Hal ini dapat berkontribusi pada kesehatan mental yang lebih baik secara keseluruhan.

Publikasi: Ashefa Griya Pusaka

Scroll to Top