Begini Rasanya Tubuh Setelah Setelah Satu Tahun Tidak Menggunakan Sabu - Ashefa Griya Pusaka

Begini Rasanya Tubuh Setelah Setelah Satu Tahun Tidak Menggunakan Sabu

tubuh sehat bebas dari sabu
Share on:

Sabu merupakan narkoba stimulan yang kuat dan sangat membuat ketagihan, sangat ampuh dalam mempengaruhi otak dan sistem saraf. Dampaknya sangat luas dalam hal fisik maupun mental. Namun dengan sistem pendukung dan dedikasi yang tepat, para pecandu sabu dapat sembuh dari kecanduan dan hidup lebih sehat. Bagaimana rasanya kondisi tubuh setelah satu tahun tidak menggunakan sabu?

Tanda dan Gejala Kecanduan Sabu

Hanya dokter yang dapat mendiagnosis gangguan penggunaan narkoba, namun terdapat berbagai tanda, gejala, dan efek samping penggunaan sabu. Untuk mendiagnosis gangguan penggunaan narkoba stimulan, dokter biasanya menggunakan daftar 11 kriteria yang diuraikan dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, Edisi Kelima (DSM-5), yang meliputi:

  • Mengonsumsi lebih banyak sabu atau menggunakannya lebih lama dari yang direncanakan.
  • Ingin mengurangi atau berhenti menggunakan sabu tetapi tidak mampu melakukannya.
  • Memiliki keinginan yang kuat terhadap sabu.
  • Mengalami kesulitan memenuhi tanggung jawab di rumah, sekolah, atau tempat kerja karena penggunaan sabu.
  • Tidak dapat berhenti menggunakan sabu meskipun hal itu menyebabkan atau memperburuk masalah sosial atau antarpribadi.
  • Tidak dapat menghentikan penggunaan sabu meskipun faktanya hal tersebut telah menyebabkan atau memperburuk masalah kesehatan fisik atau mental.
  • Berhenti atau mengurangi hobi akibat penggunaan sabu.
  • Menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan, menggunakan, atau memulihkan diri dari penggunaan sabu.
  • Menggunakan sabu dalam situasi yang dapat membahayakan, seperti saat mengemudi.
  • Mengembangkan toleransi terhadap efek sabu, artinya pengguna perlu menggunakan lebih banyak dosis sabu untuk merasakan efek yang sama yang diinginkan.

Penggunaan sabu dalam dosis tinggi dan kronis dikaitkan dengan dua masalah kesehatan mental jangka panjang yaitu anhedonia dan psikosis.

  • Anhedonia adalah berkurangnya minat atau kesenangan pada aktivitas yang sebelumnya menyenangkan atau bermanfaat. Ada teori yang menyatakan bahwa perubahan pada pusat kesenangan dan penghargaan di otak, sebagai akibat dari penggunaan sabu, mungkin berperan dalam anhedonia yang berkepanjangan pada individu yang sebelumnya menggunakan sabu.
  • Penggunaan sabu juga dapat mengakibatkan gejala psikosis. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan sabu secara intravena atau memiliki riwayat psikosis dalam keluarga berada pada risiko yang lebih tinggi. Meskipun gejala kejiwaan ini biasanya hilang dengan sendirinya dalam waktu seminggu setelahnya. pantang, untuk beberapa gejala ini mungkin bertahan lama setelah penggunaan dihentikan dan mungkin muncul kembali pada saat stres. Tanda-tanda psikosis dapat mencakup: Delusi, (misalnya menerima pesan melalui radio atau televisi yang diyakini nyata), Halusinasi (misalnya merasakan, mendengar, atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, seperti yakin ada serangga yang merayap di bawah kulit), Paranoia, dan Aktivitas motorik berulang.

Berapa Lama Sabu Hilang dari Metabolisme Tubuh Pengguna?

Sabu atau Metamfetamin biasanya dikonsumsi melalui beberapa cara seperti suntikan, Dirokok dalam pipa kaca, konsumsi langsung ke mulut, atau dihirup melalui hidung. Sabu hampir tidak dimetabolisme oleh tubuh manusia, sehingga tetap ada dalam tubuh dan efeknya dapat bertahan dari 8 hingga 24 jam. Meskipun biasanya diperlukan waktu sekitar 72 jam agar metamfetamin keluar dari metabolisme tubuh, namun narkoba jenis ini masih dapat dideteksi setelah berhari-hari berlalu :

  • Dalam Urin: hingga 10 hari
  • Dalam Darah: hingga 3 hari
  • Dalam Air liur: hingga 4 hari
  • Dalam Rambut: hingga 90 hari

Beberapa pecandu mencoba mempercepat proses tersebut dengan minum lebih banyak cairan, mengonsumsi obat pencahar untuk meningkatkan ekskresi, atau mengeluarkan keringat saat berolahraga berlebihan. Meskipun cara-cara itu mungkin mengurangi kekuatan deteksi, namun itu bukanlah cara yang sehat untuk menangani kecanduan.

Efek Sabu pada Tubuh

Penggunaan sabu dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan parah pada otak, mental dan tubuh. Berikut dampak umum dari penyalahgunaan sabu.

Otak

Sabu yang dikonsumsi akan meningkatkan kadar dopamin di otak, yang menciptakan perasaan bahagia dan senang tetapi berdampak pada memori dan kemampuan dalam mengatasi masalah. Ketidakseimbangan ini dapat mengubah fungsi otak dan menyebabkan pecandu selalu ingin mengonsumsi sabu untuk mempertahankan rasa gembira tersebut. Penggunaan sabu terus menerus akhirnya menyebabkan kerusakan permanen pada sel dopamin, menyebabkan masalah emosional dan psikologis.

Tubuh

Penggunaan sabu dalam jangka panjang dapat merusak beberapa aspek tubuh manusia. Dari organ hingga sistem tubuh, sabu berkontribusi terhadap masalah pada:

  • Kesehatan jantung: sabu meningkatkan tekanan darah, meningkatkan detak jantung, menyempitkan pembuluh darah, dan merusak otot jantung.
  • Sistem kekebalan tubuh: sabu melemahkan pertahanan tubuh pengguna terhadap patogen dan kuman serta dapat memperburuk kondisi penyakit saat ini.
  • Ginjal: tubuh pengguna berjuang untuk memecah racun yang ditemukan dalam sabu, yang menyebabkan kerusakan ginjal.
  • Kulit: sabu dapat menyebabkan sensasi gatal yang parah, yang mengakibatkan luka ketika kulitnya teriritasi.
  • Penyalahgunaan metamfetamin memiliki dampak yang luas terhadap organ, darah, dan jaringan, yang dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut dan akibat yang berbahaya (jika tidak fatal).

Gigi

Sabu itu bersifat sangat asam, sehingga semakin lama orang menggunakannya, semakin besar kemungkinan mereka mengalami penyakit gusi dan kerusakan gigi. Dikenal sebagai “mulut sabu”, gigi bisa menjadi hitam, ternoda, membusuk, patah, hingga rontok. Pecandu sabu juga bisa mengalami nyeri rahang, sakit kepala, rahang terkatup, dan sulit mengonsumsi makanan. Dalam kasus ekstrim, orang harus menjalani operasi kosmetik untuk mengatasi masalahnya.

Cara Berhenti Menggunakan Sabu

Berbagai bentuk pengobatan yang efektif tersedia bagi mereka yang kecanduan sabu, dan pilihan pengobatan sabu yang terbaik bergantung pada masing-masing orang. Penghentian atau pengurangan penggunaan sabu secara tiba-tiba biasanya akan menimbulkan gejala penarikan atau sakau. Penghentian penggunaan sabu dapat menghasilkan pikiran negatif dan depresi, yang dapat menyebabkan tindakan merugikan diri sendiri pada beberapa orang. Keadaan depresi yang intens pun dapat menyebabkan seseorang kambuh segera setelahnya.

Selain itu, jika seseorang bergantung pada banyak jenis narkoba maka sindrom penarikan lainnya dapat mempersulit detoksifikasi dan dapat menyebabkan gejala kesehatan fisik dan mental tambahan. Secara medis detoksifikasi memungkinkan seseorang untuk berhenti mengonsumsi zat-zat terlarang di bawah pengawasan dokter.

Namun, detoksifikasi biasanya tidak cukup untuk pemulihan berkelanjutan dan biasanya diikuti dengan rencana perawatan yang lebih komprehensif untuk mengatasi masalah perilaku dan kognitif dari kecanduan. Karena itu diperlukan program rehabilitasi, bisa rawat inap atau rawat jalan.

Rehabilitasi rawat inap atau perawatan residensial berarti pasien tinggal dan tidur di fasilitas rehabilitasi selama durasi perawatan, yang mencakup sesi konseling dan terapi terstruktur. Perawatan rawat jalan memungkinkan pasien untuk tinggal di rumahnya sendiri atau di lingkungan yang tenang dan menghadiri janji temu dan sesi yang telah dijadwalkan sebelumnya di fasilitas perawatan.

Kondisi Tubuh Setelah Satu Tahun Tidak Menggunakan Sabu

Mantan pecandu sudah mulai melihat efek positif pada tubuh ketika mereka berhenti menggunakan sabu setelah satu tahun. Tubuh akan mulai memperbaiki kerusakan akibat penyalahgunaan sabu seperti memulihkan sel dopamin otak untuk membantu mengatur perasaan bahagia dan senang. Hal ini akan membantu mengurangi kemungkinan mengalami depresi dan kecemasan yang menghasilkan pandangan yang lebih positif. Kulit juga akan sembuh sehingga rasa percaya diri menjadi lebih tinggi.

Organ dalam pun menjadi lebih kuat dan mendapatkan kembali fungsinya. Hal ini akan membantu mengurangi penyakit jantung dan meringankan beban pada ginjal. Mantan pecandu pun dapat kembali mengonsumsi makanan sehat untuk menyediakan vitamin dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk membangun kekuatan dan meningkatkan kekebalan. Hanya dalam satu tahun, mantan pengguna sabu sudah dapat melihat peningkatan dan perbaikan emosional, psikologis, dan juga fisik.

Publikasi: Ashefa Griya Pusaka

Scroll to Top