Mengapa Work Life Balance Itu Sangat Penting untuk Anda - Ashefa Griya Pusaka

Mengapa Work Life Balance Itu Sangat Penting untuk Anda

work life balance 1
Share on:

Ritme kerja yang semakin cepat dan penuh tuntutan menyebabkan banyak orang stres. Produktifitas pun menurun. Sudah saatnya kita menerapkan apa yang disebut Work Life Balance. Mencapai keseimbangan kerja dan kehidupan. Bagaimana Caranya?

Faktor Penyumbang Stres

Banyak faktor yang dapat menyebabkan orang mengalami stres. Beberapa faktor tersebut meliputi:

  • Tuntutan Pekerjaan: Beban kerja yang berlebihan, tenggat waktu yang ketat, tuntutan yang tinggi dari atasan atau klien, serta tekanan untuk mencapai target tertentu dapat menyebabkan stres di tempat kerja.
  • Ketidakseimbangan Work-life: Kurangnya keseimbangan antara waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan dan waktu untuk kehidupan pribadi, keluarga, serta rekreasi dapat menyebabkan stres dan kelelahan.
  • Masalah Keuangan: Masalah finansial seperti utang, biaya hidup yang tinggi, atau ketidakpastian keuangan dapat menyebabkan stres dan kecemasan yang signifikan.
  • Kurangnya Waktu untuk Diri Sendiri: Ritme yang cepat seringkali membuat orang mengorbankan waktu untuk diri sendiri, istirahat, dan rekreasi. Ini dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental.
  • Mobilitas dan Perjalanan: Perjalanan bisnis, komuter jarak jauh, atau aktivitas harian yang melibatkan perpindahan dapat menghabiskan waktu yang signifikan, menyebabkan kelelahan dan membatasi waktu yang tersedia untuk istirahat.
  • Perbandingan dengan Orang Lain: Media sosial dan kemampuan untuk melihat kehidupan orang lain secara online dapat memicu perasaan tidak puas dan rendah diri, terutama jika kita merasa bahwa kehidupan orang lain lebih sukses atau bahagia.
  • Hubungan Pribadi: Konflik dalam hubungan pribadi, masalah dalam perkawinan atau hubungan dengan keluarga dan teman-teman, serta perasaan kesepian dapat berkontribusi pada stres.
  • Perubahan Hidup: Peristiwa besar dalam hidup seperti perpindahan, perubahan pekerjaan, pernikahan, perceraian, atau kematian anggota keluarga dapat menyebabkan stres karena perubahan ini memerlukan penyesuaian dan adaptasi.
  • Teknologi dan Konstanta Koneksi: Teknologi modern telah menciptakan ekspektasi untuk tetap terhubung secara konstan melalui email, media sosial, dan pesan instan, yang dapat mengganggu waktu istirahat dan memicu stres.
  • Tingkat Hidup yang Tinggi: Standar hidup yang tinggi, tekanan untuk mencapai kesuksesan, serta perbandingan dengan orang lain di media sosial bisa menyebabkan stres dan perasaan tidak puas.
  • Kesehatan Fisik dan Mental: Masalah kesehatan fisik atau mental seperti penyakit kronis, gangguan kecemasan, atau depresi dapat menyebabkan tingkat stres yang lebih tinggi.
  • Ketidakpastian Masa Depan: Ketidakpastian tentang masa depan, baik dalam hal pekerjaan, hubungan, atau situasi global, dapat menimbulkan kecemasan dan stres.
  • Kurangnya Dukungan Sosial: Rendahnya dukungan dari teman, keluarga, atau lingkungan sosial dapat membuat seseorang merasa terisolasi dan meningkatkan tingkat stres.

Setiap individu tentunya memiliki ambang stres yang berbeda dan berbagai faktor di atas dapat berinteraksi satu sama lain. Mengelola stres akan melibatkan pengenalan faktor pemicu stres, dan mengembangkan strategi koping yang sehat. Work life balance adalah salah satu strategi tepat membuat hidup lebih bahagia jauh dari stres.

Mengapa Work Life Balance Penting Diterapkan?

Work-life balance adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keseimbangan antara waktu, energi, dan perhatian yang diberikan seseorang untuk pekerjaan (work) dan kehidupan pribadi serta keluarga (life).

Konsep ini mengacu pada usaha untuk mencapai proporsi yang sehat antara waktu yang dihabiskan untuk bekerja dan waktu yang dihabiskan untuk kegiatan di luar pekerjaan, seperti bersama keluarga, beristirahat, berolahraga, bersosialisasi, dan mengejar hobi.

Pentingnya work-life balance berkaitan dengan menjaga kesejahteraan fisik dan mental seseorang. Jika seseorang terlalu fokus pada pekerjaan tanpa memberi cukup waktu untuk kehidupan pribadi, hal ini dapat menyebabkan kelelahan, stres, gangguan kesehatan, serta masalah dalam hubungan sosial dan keluarga.

Sebaliknya, jika seseorang tidak cukup berfokus pada pekerjaan dan melibatkan diri dalam kegiatan pribadi yang kurang produktif, ini juga bisa berdampak negatif pada karier dan perkembangan pribadi.

Work-life balance dapat berbeda-beda bagi setiap individu, tergantung pada nilai-nilai, tujuan, dan prioritas pribadi. Beberapa strategi yang dapat membantu mencapai work-life balance antara lain mengatur jadwal yang seimbang, menghindari terlalu sering bekerja lembur, mengambil cuti secara teratur, menghindari membawa pekerjaan ke rumah, serta berkomunikasi dengan baik dengan atasan dan rekan kerja mengenai harapan dan batasan waktu.

Work-life balance tentu bukan berarti membagi waktu secara sama rata antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tetapi lebih mengenai menciptakan harmoni yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing individu.

Contoh Penerapan Work Life Balance

Berikut beberapa contoh situasi yang menggambarkan bagaimana penerapan work-life balance dalam ritme kehidupan dan kerja :

  • Jadwal Kerja yang Teratur: Seseorang memiliki jadwal kerja yang tetap dan dapat diandalkan, yang memungkinkan mereka untuk bekerja selama jam kerja dan memiliki waktu yang cukup untuk kehidupan pribadi di luar jam kerja.
  • Mengambil Cuti Secara Teratur: Seseorang secara rutin mengambil cuti libur atau cuti pribadi untuk beristirahat, bersantai, dan menghabiskan waktu bersama keluarga atau melakukan kegiatan yang mereka nikmati.
  • Waktu untuk Olahraga dan Kegiatan Fisik: Seseorang menyisihkan waktu secara teratur untuk berolahraga atau berpartisipasi dalam kegiatan fisik seperti jogging, yoga, atau berenang.
  • Kualitas Waktu Bersama Keluarga: Seorang orangtua memiliki waktu yang cukup untuk bermain, berbicara, dan berkualitas dengan anak-anaknya tanpa merasa terbebani oleh pekerjaan.
  • Menjaga Kegiatan Hobi: Seseorang melakukan hobi yang mereka nikmati, seperti bermain musik, melukis, atau memasak, dan mereka memberikan waktu khusus untuk melakukannya.
  • Menghindari Bawaan Pekerjaan Pulang: Seseorang memutuskan untuk tidak membawa pekerjaan pulang, sehingga waktu di rumah digunakan untuk bersantai, berinteraksi dengan keluarga, atau mengejar aktivitas pribadi.
  • Menggunakan Teknologi dengan Bijak: Seseorang mengatur batasan penggunaan teknologi dan media sosial di luar jam kerja agar mereka dapat benar-benar beristirahat dan fokus pada interaksi langsung dengan orang-orang di sekitar.
  • Mengatur Batas Waktu: Seseorang memiliki batasan waktu ketika mereka meninggalkan kantor atau menutup laptop, dan mereka tidak melibatkan diri dalam pekerjaan setelah waktu tertentu.
  • Dukungan Sosial dan Relaksasi: Seseorang terlibat dalam kegiatan sosial seperti pertemuan dengan teman atau menghadiri acara keluarga, serta menyediakan waktu untuk relaksasi dan tidur yang cukup.
  • Mengambil Waktu untuk Diri Sendiri: Seseorang secara teratur menyisihkan waktu untuk merenung, mereset pikiran, atau melakukan aktivitas yang meningkatkan kesejahteraan mental mereka.

Penerapan Work Life Balance dalam Beragama

Work-life balance juga dapat diterapkan dalam konteks kehidupan agama, di mana nilai-nilai spiritual dan praktik keagamaan menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Berikut adalah contoh-contoh work-life balance dalam konteks kehidupan agama:

  • Menjaga Waktu Ibadah: Seseorang yang menjalankan keyakinan agama mungkin akan menjadwalkan waktu untuk beribadah, seperti salat, meditasi, atau membaca kitab suci, sebagai bagian dari rutinitas harian mereka. Mereka akan berupaya menjaga konsistensi dalam praktik spiritual ini tanpa mengabaikan tanggung jawab pekerjaan atau keluarga.
  • Mengambil Hari Libur Agama: Individu yang memegang keyakinan agama sering mengambil cuti atau menetapkan prioritas untuk merayakan hari libur agama yang penting. Ini bisa menjadi waktu di mana mereka fokus pada aspek spiritual dan merayakan bersama keluarga dan komunitas.
  • Pengabdian Sosial dan Kemanusiaan: Seiring dengan pekerjaan dan kehidupan pribadi, banyak orang yang mengintegrasikan nilai-nilai agama mereka dalam membantu sesama. Mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau amal yang sesuai dengan ajaran agama mereka.
  • Pemberian Diri dalam Ibadah: Beberapa orang mengalokasikan waktu untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat suci atau tempat ibadah untuk mengalami momen refleksi, meditasi, atau kontemplasi yang mendalam.
  • Menghindari Kelelahan Spiritual: Work-life balance dalam konteks agama juga mencakup memastikan bahwa intensitas praktik keagamaan tidak menyebabkan kelelahan spiritual. Mereka bisa mengenali tanda-tanda kelelahan dan mengambil waktu untuk meresapi makna ibadah tanpa terjebak dalam rutinitas yang mekanis.
  • Waktu Keluarga dengan Nilai-Nilai Agama: Menghabiskan waktu bersama keluarga dalam suasana yang mencerminkan nilai-nilai agama seperti kebersamaan, kasih sayang, dan pengertian.
  • Menjaga Keseimbangan Etika dan Nilai Agama di Tempat Kerja: Mengintegrasikan nilai-nilai agama ke dalam pekerjaan dengan mempraktikkan etika, integritas, dan sikap positif.

Work-life balance akan bervariasi tergantung pada kebutuhan, nilai-nilai, dan preferensi individu. Tujuannya adalah untuk menciptakan harmoni antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang menghasilkan kesejahteraan fisik dan mental.

Publikasi: Ashefa Griya Pusaka

Scroll to Top