Kebanyakan kita terkadang merasa sedih, kesepian dan putus asa, yang semuanya merupakan reaksi normal ketika menghadapi kematian orang yang dicintai, atau masalah kehidupan. Namun, ketika perasaan itu menjadi berlebihan, dapat menyebabkan reaksi fisik yang bertahan untuk waktu lama. Apakah akibatnya jika kita mudah putus asa?
Sikap mudah putus asa dan depresi dapat mencegah kita menjalani kehidupan yang normal dan aktif. Pada saat-saat seperti itu, perlu untuk mendapatkan penanganan yang tepat agar tak berkembang menjadi depresi. Apa saja gejala, penyebab, dan metode pengobatan dari perasaan putus asa yang bisa berkembang menjadi depresi.
Putus Asa dan Depresi
Depresi atau gangguan depresi merupakan kondisi mental yang sering dijumpai. Secara global, lebih dari 264 juta orang dari segala usia menderita depresi. Secara praktis, penyakit mental yang satu ini lebih umum daripada gabungan dari AIDS, kanker, dan diabetes. Diperkirakan, gangguan tersebut mempengaruhi satu dari 15 orang dewasa setiap tahunnya.
Depresi akan mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasa dan berperilaku, serta fakta bahwa gejala ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Dibandingkan dengan kesedihan biasa, depresi bersifat menetap, seringkali mengganggu kemampuan seseorang untuk menjalani atau mengantisipasi peristiwa kehidupan dan secara serius mempengaruhi cara mereka melakukan aktivitas sehari-hari.
Jika gangguan depresi tidak diobati, kondisi penderita dapat memburuk, mungkin bertahan selama beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun. Selain gejala mental, depresi pun dapat menyebabkan ketidaknyamanan fisik dan bahkan menyebabkan keinginan bunuh diri, dengan satu dari 10 orang berakhir dengan cara tersebut. Sayangnya, hampir setengah dari penderita depresi tidak pernah didiagnosis atau diobati. Itulah mengapa sangat penting untuk mengenali gejalanya tepat waktu, sehingga kita dapat meminta bantuan ahlinya.
Penyebab Perasaan Putus Asa dan Depresi
Seringkali, gangguan depresi sebenarnya merupakan hasil dari kombinasi faktor, bukan akibat dari satu penyebab. Di antara faktor-faktor tersebut, misalnya perubahan penting dalam kehidupan, lingkungan, pola pikir, yang dapat memengaruhi cara seseorang bereaksi terhadap perubahan. Faktor genetik pun berperan. Misalnya, penderitaan setelah kehilangan orang yang dicintai, mengalami perceraian, didiagnosis menderita penyakit serius, atau kehilangan pekerjaan dapat menyebabkan perasaan mudah putus asa yang berkembang menjadi depresi.
Dan kondisi kehidupan, seperti kurangnya tempat tinggal, masalah keuangan atau kekerasan dapat menyebabkan keadaan depresi, karena tingkat stres yang luar biasa. Selain itu, fluktuasi hormonal pada wanita atau kondisi medis yang tidak diketahui dapat menyebabkan perubahan suasana hati dan timbulnya depresi.
Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko mengembangkan gangguan depresi adalah:
- Kesepian.
- Masalah dengan pasangan.
- Pengalaman stres baru-baru ini.
- Rasa sakit atau kondisi kronis.
- Riwayat keluarga (jika kerabat tingkat pertama mengalami depresi, risiko menghadapi gangguan yang sama meningkat 2 atau 3 kali lipat).
- Kepribadian (kecenderungan untuk khawatir, pandangan hidup yang negatif, kritik diri yang berlebihan atau harga diri yang rendah).
- Jenis kelamin perempuan (beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20% wanita akan menghadapi episode gangguan depresi).
- Trauma atau pelecehan masa kecil.
- Konsumsi alkohol atau obat-obatan yang berlebihan.
Akibat dari Mental Mudah Putus Asa dan Depresi

Secara umum, depresi dapat menyebabkan berbagai masalah emosional dan fisik, yang menyebabkan penurunan produktivitas di tempat kerja dan di rumah. Penderita mungkin mengalami gejala yang berkisar dari ringan hingga parah, seperti:
- Kehilangan minat atau penghindaran aktivitas : banyak orang dengan depresi menyadari bahwa aktivitas yang pernah mereka nikmati, seperti hobi atau jalan-jalan dengan teman, tidak lagi menarik bagi mereka. Beberapa pasien juga melihat penurunan libido.
- Perasaan putus asa : penderita mungkin kehilangan kepercayaan diri, menyalahkan dirinya sendiri atas hal-hal yang tidak terjadi karena kesalahannya atau merasa bahwa semuanya tidak berguna. Beberapa orang depresi bahkan mungkin membenci diri mereka sendiri.
- Kelelahan atau kurang tidur : banyak pasien kehilangan minat pada aktivitas biasa karena mereka tidak lagi memiliki energi. Beberapa orang menderita insomnia atau, sebaliknya, tidur terlalu banyak. Kurangnya istirahat yang cukup dapat menyebabkan gejala seperti gelisah atau cemas.
Penanganan Mudah Putus Asa dan Depresi
Ada beberapa pilihan pengobatan untuk depresi, seperti :
- Psikoterapi – berkonsultasi dengan terapis dapat memberikan teknik dan strategi yang diperlukan untuk mengelola gejala. Terapi juga dapat membantu mencegah kekambuhan.
- Obat antidepresan – terutama jika pasien menghadapi pikiran untuk bunuh diri atau agresif. Namun, meskipun obat dapat membantu untuk beberapa pasien, mereka bukan solusi jangka panjang. Selain itu, pemberian antidepresan disertai dengan efek samping dan kerugian lainnya.
- Self-help – bagi banyak orang, olahraga teratur meningkatkan suasana hati. Tidur nyenyak, makan makanan sehat dan menghindari alkohol (yang memiliki efek depresan) juga dapat membantu mengurangi gejala.
Publikasi: Ashefa Griya Pusaka






